Rabu, 15 April 2015

Sang Pujangga Bergitar



Tak pernah aku sangka akan bertemu dengan lelaki yang sangat hebat, yang bisa meluluhkan hatiku hanya dengan petikan gitarnya dan lesung dipipinya ketika dia tersenyum. Dia mampu membuatku begitu terpesona saat alunan nada yang dimainkannya melayang mengitari kepalaku. Dia membuatku begitu penasaran dengan sikap acuhnya, dan dia…

Namanya Ryan Faezal Zulmi, satu angkatan denganku, Sastra Indonesia di Universitas Jenderal Soedirman. Dia tinggal di daerah Watumas, Purwokerto Utara. Anak terakhir dari dua bersaudara. Dia mempunyai satu kakak laki-laki, yang kini sudah menikah dan mempunyai satu anak. Wah .. ryan udah jadi om-om hehe..
Oke cukup, akan sangat panjang jika menceritakan tentangnya. Karena ini kisahku, akan kuceritakan bagaimana aku bisa mendapatkan hatinya. Mulai dari mana ya?..
Teknikal Meeting untuk malam keakraban Sastra Indonesia, waktu itu semua berkenalan dan saat itulah pertama kalinya aku tahu nama Ryan, tapi masih sering lupa. Ryan masuk ke kelompokku, dan dia mengiringi yel-yel kelompok kami dengan permainan gitarnya. Ryan masih terlihat sangat biasa dimataku, belum ada yang menarik. Dan aku masih ingat ketika dia menyombongkan diri saat melihatku memegang gitar, katanya “emang bisa main gitar? Coba kunci C?” Karena aku tidak tahu tentang gitar, aku menjawab dengan asal “seperti ini” (dengan jari menahan semua senar gitar). Cerita makrab pun masih biasa saja, hanya sebatas pengakraban antara angkatan lama dan angkatan baru.
Aku mulai tertarik dengan Ryan saat dia mengiringi musikalisasi puisi di Malam Untuk Sastra Indonesia, dia memainkan musik sedangkan Afi yang membacakan puisi. Tapi, entah mengapa, malam itu terasa ada yang berbeda, dalam remangnya malam ada sepancar cahaya yang membias dibalik tubuh lelaki yang memainkan gitar. Oh my god! Ada yang berbeda dengan Ryan malam itu, dia tampak jauh lebih terang, entah apa, tapi jari-jarinya seolah menari saat memetik senar gitar, dan semuanya berubah. Sejak saat itu aku nyatakan bahwa “cowo yang main gitar itu keren!”. Haha …
Kadang ga semua harus dimulai dari cowok kan? Kalau suka, ya dikejar dong. Kalau diem aja, bisa-bisa di ambil orang, tapi bukan itu yang terpenting, yang penting adalah orang yang kita suka itu tahu perasaan kita. Nah pembaca yang penasaran, akan kuceritakan strategiku menunjukkan perasaanku pada Ryan.
Strategi pertama, basa-basi pengin nyoba main gitar, minta di ajarin gitu. Dan Alhamdulillah, dia mau. Strategi kedua, minta nomer hape. Strategi ketiga, belajar gitar yuhuuuuu…. Ya biasalah, namanya juga lagi modus, belajar gitarnya sambil ngobrol sana sini. Strategi kelima, kepoin rumahnya, oke ini bagian yang seru loh. Waktu itu, dia gamau nunjukin rumahnya tapi dengan alesan kaki sakit, akhirnya aku diboncengin dan whuuusss meluncur kerumahnya. Ya… walaupun ga mampir, setidaknya tau lah ya rumahnya dimana.
Strategi terakhir, mengungkapkan perasaan lewat orang lain. Jadi, waktu itu si dani (temen aku) yang bilang ke Ryan kalau aku suka sama dia, pura-puranya si aku gatau apa-apa (padahal aku tahu kalau dani bilang ke ryan, dan aku seneng). Sejak saat itu aku jadi sering sms.an sama Ryan, jalan bareng dan akhirnya pacaran.
Begitulah.. dan kisah ini belum berakhir…                            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar