Tak pernah aku sangka akan bertemu dengan lelaki yang sangat
hebat, yang bisa meluluhkan hatiku hanya dengan petikan gitarnya dan lesung
dipipinya ketika dia tersenyum. Dia mampu membuatku begitu terpesona saat
alunan nada yang dimainkannya melayang mengitari kepalaku. Dia membuatku begitu
penasaran dengan sikap acuhnya, dan dia…
Namanya Ryan Faezal Zulmi, satu angkatan denganku, Sastra
Indonesia di Universitas Jenderal Soedirman. Dia tinggal di daerah Watumas,
Purwokerto Utara. Anak terakhir dari dua bersaudara. Dia mempunyai satu kakak
laki-laki, yang kini sudah menikah dan mempunyai satu anak. Wah .. ryan udah
jadi om-om hehe..
Oke cukup, akan sangat panjang jika menceritakan tentangnya.
Karena ini kisahku, akan kuceritakan bagaimana aku bisa mendapatkan hatinya.
Mulai dari mana ya?..
Teknikal Meeting untuk malam keakraban Sastra Indonesia,
waktu itu semua berkenalan dan saat itulah pertama kalinya aku tahu nama Ryan,
tapi masih sering lupa. Ryan masuk ke kelompokku, dan dia mengiringi yel-yel
kelompok kami dengan permainan gitarnya. Ryan masih terlihat sangat biasa
dimataku, belum ada yang menarik. Dan aku masih ingat ketika dia menyombongkan
diri saat melihatku memegang gitar, katanya “emang bisa main gitar? Coba kunci
C?” Karena aku tidak tahu tentang gitar, aku menjawab dengan asal “seperti ini”
(dengan jari menahan semua senar gitar). Cerita makrab pun masih biasa saja,
hanya sebatas pengakraban antara angkatan lama dan angkatan baru.
Aku mulai tertarik dengan Ryan saat dia mengiringi
musikalisasi puisi di Malam Untuk Sastra Indonesia, dia memainkan musik
sedangkan Afi yang membacakan puisi. Tapi, entah mengapa, malam itu terasa ada
yang berbeda, dalam remangnya malam ada sepancar cahaya yang membias dibalik
tubuh lelaki yang memainkan gitar. Oh my god! Ada yang berbeda dengan Ryan
malam itu, dia tampak jauh lebih terang, entah apa, tapi jari-jarinya seolah
menari saat memetik senar gitar, dan semuanya berubah. Sejak saat itu aku
nyatakan bahwa “cowo yang main gitar itu keren!”. Haha …
Kadang ga semua harus dimulai dari cowok kan? Kalau suka, ya
dikejar dong. Kalau diem aja, bisa-bisa di ambil orang, tapi bukan itu yang
terpenting, yang penting adalah orang yang kita suka itu tahu perasaan kita.
Nah pembaca yang penasaran, akan kuceritakan strategiku menunjukkan perasaanku
pada Ryan.
Strategi pertama, basa-basi pengin nyoba main gitar, minta
di ajarin gitu. Dan Alhamdulillah, dia mau. Strategi kedua, minta nomer hape.
Strategi ketiga, belajar gitar yuhuuuuu…. Ya biasalah, namanya juga lagi modus,
belajar gitarnya sambil ngobrol sana sini. Strategi kelima, kepoin rumahnya,
oke ini bagian yang seru loh. Waktu itu, dia gamau nunjukin rumahnya tapi
dengan alesan kaki sakit, akhirnya aku diboncengin dan whuuusss meluncur
kerumahnya. Ya… walaupun ga mampir, setidaknya tau lah ya rumahnya dimana.
Strategi terakhir, mengungkapkan perasaan lewat orang lain.
Jadi, waktu itu si dani (temen aku) yang bilang ke Ryan kalau aku suka sama
dia, pura-puranya si aku gatau apa-apa (padahal aku tahu kalau dani bilang ke
ryan, dan aku seneng). Sejak saat itu aku jadi sering sms.an sama Ryan, jalan
bareng dan akhirnya pacaran.
Begitulah.. dan kisah ini belum
berakhir…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar