Senin, 20 April 2015

Hi MA!!!



Hy  ma, apa kabar? Sudah lama aku tak pernah bercerita tentang lelaki padamu. Ma, laki-laki ini telah menyakiti hatiku, membuatku menangis bermalam-malam karena merindukannya. Ma, aku ingin memelukmu sama seperti dulu saat aku terluka karena terjatuh. Ma, aku sedang terjatuh, tolong bantu aku untuk bangkit. Tak ada lagi yang bisa aku harapkan…
Ma, bolehkah aku pulang? Dan melarikan diri dari semua ini? Aku telah teramat lelah menunggu, ma. Aku ingin dia mengerti lelahnya menunggu tanpa kepastian. Ma, aku ingin sekali menangis dalam pelukanmu, seluruh persendianku terasa tak berdaya, aku tak mampu berdiri. Mataku tak mampu melihat setiap huruf di keyboardku, semua menjadi buram karena air mata ini, ma.
Ma, aku ingin berteriak padanya, agar dia bisa mendengarku dengan lebih jelas. Aku ingin dia benar-benar tahu perasaanku. Maafkan aku ma.. Karena tak bsa menjadi gadismu yang kuat.

Cemburu



Ya Tuhan… Jauhkanlah perasaan ini dari hatiku. Karena aku tak ingin melukai siapapun, bukalah mataku agar aku terhindar dari kebodohan yang disebabkan oleh cinta buta. Dalam heningnya malam aku merasa sepi, mencari kesibukan sekedar mengalihkan pikiran buruk ini,namun aku tetap tak mampu untuk tidak memikirkannya. Rasa cemburu ini begitu kuat, dan ketidakpeduliannya terhadapku membuat rasa cemburu ini semakin membara, hingga air mata ini tak mampu lagi aku bending. Ya Tuhan… apa kurangnya aku ini? Memberikan semua perhatian yang dia butuhkan, mengusahakan selalu ada untuknya, tapi dia masih tidak memperdulikan diriku, tak lagi tertawa padaku, dan menomorsekiankan diriku demi kesanangannya semata.
Jika bukan karena aku ingin belajar mempertahankan sebuah hubungan agar bisa bersikap layaknya orang dewasa yang mampu berkomitmen, aku pasti sudah menyerah. Aku lelah berpura-pura kuat, aku lelah menjaga perasaannya dan membiarkan diriku semakin terluka. Tapi aku bisa apa? Aku hanya bisa menangis sendirian…

Sabtu, 18 April 2015

SS (Sabtu Sibuk)



Pagi ini aku terbangun dengan sinar matahari yang masuk melalui kaca dinding kamarku, aku melihat tabletku dan melihat jam, sudah pukul 8 lebih 20 menit, dan banyak sekali pesan di bbm ku. Ternyata hari ini ada latihan fisik di kampus bersama Teksas, aku sangat terkejut sekali, apalagi dengan isi pesan dari teman-temanku.
(Percakapan BBM)
Mba Ranti:”Malam!! Apa kabar kawan? Mau sampai kapan berdiam diri sementara waktu terus berjalan. Ayuh tekan ego kita, luangkan sedikit waktu untuk berdiskusi dan latihan. Mari ciptakan sejarah bersama, berproses bersama, jatuuh dan bangun bersama. Jangan kecewakan mereka yang sudah meluangkan waktunya untuk teksas kita. Ayo latihan stupen besok pukul 08.00 WIB.”
Aku:”Iya mba”
Eka :”Sudah berada dimana engkau pagi ini, kawan?”
Aku :”masih bermain dalam mimpiku, bagaimana dengan engkau kawan?”
Ayu : “oi blogger, katanya sibuk nulis? Blog mu masih ajeg lho”
Aku: “Kehapus ceritanya gara-gara mati lampu, aku bete yaudah baca novel”
Eka :”oalah, masih bermain dalam mimpi. Akankah kau akan terus terjebak mimpi padahal waktu kenyataannya terus bergulir dengan cepatnya? Bangun, dan datanglah latihan serta persiapan stupen calon anggota angkatan 2014 teater Teksas. Sekarang !!”
Aku :”Ya kawan, aku sudah bangun”
Ayu: “yahahahaaa”
Aku sangat lupa waktu, masih ada materi GC yang lupa aku buat. Aku belum membuat power point untuk pendalaman materi yang akan diadakan siang ini. Aku membuka laptop dan langsung membuatnya, hanya memasukkan gambar dan nama saja, tanpa keterangan hanya sekedar untuk presentasi saja, karena memang materi nya sudah selesai aku buat dari kemaren. Tak butuh waktu lama, hanya 45 menit, dan aku bergegas pagi itu lalu aku membuka kembali pesan di hape ku.
(Percakapan BBM)
Eka:”sudah berada dimana engkau pagi ini, kawan?”
Aku:”Sebentar, aku sedang menata diri, kalian dimana kawan?”
Iza:”sini sekre”
Eka: “Di sekre..”
Aku:” Iya”
Aku pun langsung berangkat ke kampus dengan pakaian seadanya, memakai kaos dan celana training. Aku juga memakai topi pantai milik ayu, niatnya mau sekalian dikembalikan. Aku berjalan agak cepat pagi itu, dan setelah melewati hutan terlarang (katanya) yang berada di samping kampus, karena memang jalan pintas untuk kekampus adalah melewati hutan itu, aku disambut dengan tertawaan bocah-bocah teksas yang kaget melihatku memakai topi pantai. Memang pagi itu, setelan ku sangat aneh, aku pun membalas tawa mereka dengan senyuman. Mereka sudah bersiap untuk latihan di lapangan, aku langsung bergabung dan akhirnya latihan dimulai dengan diawali lari mengelilingi lapangan sebanyak kurang lebih 10 putaran. Setelah lari, latihan dilanjutkan dengan peregangan.
Panas matahari sudah tinggi rupanya, semakin terik saja yang menemani latihan pagi ini. Namun aku tidak melihat ada eka atau pun ayu. Banyak sekali yang tidak hadir di latihan pagi itu, setelah peregangan kita pun berlanjut ke lantai 2 gedung B karena memang kondisi terik matahari sangat menyengat. Untunglah aku terselamatkan berkat topi pantai milik ayu.
Di lantai 2 gedung B, laihan dilanjutkan dengan pendalaman karakter dalam naskah, tapi hanya untuk angkatan 2014, Karena aku tidak tahu harus ngapain, aku mencoba menghubunngi eka.
(Percakapan BBM)
Aku:” kamu dimana? Kita dilantai 2 gedung B”
Eka:”Ngetik.. Nyetak duit dikosan bentar”
Aku:”wkwk”
Aku pun bergabung dengan mbar anti dan iza, mereka mencoba memperbaiki isi naskah. Lalu datang bang aan, dan ono juga abang arif. Bang arga pergi untuk menjemput bang ibe, sekarang latihan dipimpin oleh bang aan. Mula-mula bang aan menyuruh semuanya untuk berjalan mengikutinya, pelan-pelan, kemudian cepat, dan bertambah cepat, kemuadian menjadi butoh sangat lambat, lalu jalan biasa dan lari sekencang-kencangnya. Bang aan berseru “Yang terakhir push-up” kita semua lari sangat cepat dari ujung koridor hingga ujung koridor satunya lagi, satu per satu dari kita gugur karena push-up, kemdian dilanjut lagi dan push-up lagi, hingga kurang lebih 10kali bolak balik lari secepat-cepatnya. Aku sangat lelah dan menyerah pada putaran ketiga (hahaha cemen banget).
Pukul 11 tepat, aku ijin karena ada pendalaman materi untuk GC dan kebetulan akulah pengurusnya, aku yang mengurus materi-materinya. Aku pulang kekosan untuk mempersiapkan materinya, kemudian aku bergegas mandi dan bersiap, aku sempat menghubungi pengurus yang lain untuk membantuku memfotocopy materinya. Siang itu aku merasa sangat lapar sekali, tapi aku tak punya waktu untuk makan, aku takut terlambat. Dijalan, aku bertemu dengan abdul dan hamid, langsung saja aku serahkan materi ke abdul untuk difotocopy, aku dan hamid menunggu disekre sembari mempersiapkan alat. Jam 1 pas, aku menuju ruang audio di kampus, menunggu yang lainnya.
Pendalaman materi berlangsung cukup lama, hamid sebagai pemateri, yang menjelaskan di depan, aku hanya moderator yang memindahkan slide demi slide di powerpoint. Hamid cukup cekatan dalam memberikan penjelasan tentang materi yang aku buat, karena dia memang sudah menguasai materi tersebut, sembari di beri contoh menggunakan alat-alat.
Pukul 3 sore, aku sudah tidak tahan lagi, aku sangat lapar, lapar sekali karena terakhir makan kemaren siang. Untunglah materi sudah selesai karena waktunya untuk latihan fisik, namun hamid memberikan waktu istirahat. Jadi aku bisa makan di burjo. Setelah kenyang aku kembali ke kampus, namun kondisi cuaca sedang hujan. Kita tidak jadi pergi ke wapala, namun akhirnya materi dilanjutkan di ruang audio hingga maghrib tiba, setelah hujan berhenti kami memutuskan untuk pergi latihan wall.
Hari yang sibuk, mempunyai dua organisasi memang tidak mudah, aku harus bisa membagi waktu untuk mereka. Dan jangan sampai ada yang terabaikan, namun tetap saja, meskipun aku sudah berusaha, aku masih saja tidak bisa membagi waktu secara adil. Maafkan aku..

Rabu, 15 April 2015

Hi Ma! karya W.S Rendra

Memaknai makna dalam puisi bukan hanya sekedar makna, tapi bagaimana kita bisa menyatukan pikiran untuk menangkap satu makna yang sama.
Ini adalah proses yang panjang untuk kami bertiga mengerjakan tugas kelompok Mata Kuliah Pengkajian Puisi. Tugas ini adalah tugas menganalisis puisi menurut Roman Ingardien, yaitu untuk menganalisis lapis demi lapis dalam puisi sehingga makna sebenarnya dari sebuah puisi yang ingin disampaikan pada pengarang dapat diterima oleh pembaca.
Hari selasa aku bangun terlambat sekali sekitar jam 9 lebih, karena malamnya aku bergadang untuk menyelesaikan proposal pengajuan dana. Aku mendapat sms dari ayu untuk segera ke kosannya untuk mengerjakan tugas pengkajian puisi. Saat aku sampai di kosannya, arum sedang bersiap untuk sshalat dzuhur, karena aku sedang berhalangan jadi aku tidak shalat. Aku langsung saja tiduran dikasur  sambil menunggu ayu dan melihat arum shalat. Tidak berapa lama, ayu pun datang dengan sop buah di tangannya. Harga sop buah itu 11rb rupiah, wah wah wah mahal sekali ya, tapi sepadan kok dengan rasanya. Kami lalu memulai diskusi, untuk lapis pertama, dikerjakan oleh ayu dan arum, aku hanya menulis ulang puisi tersebut pada selembar kertas, tak lama aku mendapat pesan untuk menjemput ryan, setelah aku menyelesaikan tulisanku aku pun langsung meluncur ke rumah ryan.
Sebelum pergi, arum minta dibelikan tisu basah di BK, setelah menerima uang dari arum, dan meminjam tas kecil milik ayu, aku pun meluncur. Sesampainya kembali aku dikosan ayu, aku mulai mengerjakan lapis kedua yaitu lapis arti, sekarang ini giliran aku untuk mengetik. Awalnya kita membagi tugas, arum mengartikan bait pertama dan kedua, aku bait ketiga dan keempat sedangkan ayu mengartikan bait kelima. Tak lama, kami merasa sangat sulit mengerjakan jika tidak langsung ditulis, akhirnya arum yang membacakan arti dan aku yang mengetik, ayu sedang buang air besar. Tak lama, ayu kembali dengan keluhannya ingin jajan, dia merajuk ingin beli makanan ringan yang rasa keju, karena dari kita bertiga ga ada yang mau gerak, akhirnya ayu lah yang bergerak untuk pergi membeli jajanan, aku dan arum masih sibuk mengartikan puisi.
Ayu kembali dengan tiga bungkus chiki berukuran besar, waauu.. kami pun saling mendiskusikan arti puisi dan tentu saja, sambil ngemil. Lalu tidak lama, ayu bilang “Pake nasi, enak ya” aku pun langsung mengambil nasi yang memang pada saat itu posisiku lebih dekat dengan magic com. Makan nasi dengan chiki terasa sangat nikmat sekali pada saat itu, mungkin karena kita memang sedang lapar.
Hari pun semakin sore dan kita baru mengerjakan sampai lapis ketiga, itupun baru pada bagian objeknya saja. Arum ada acara yang harus dihadiri, jadi pada pukul setengah empat sore, kita sudahin dulu kerja kelompoknya, dan akan dilanjut keesokan harinya.
Syukurlah, karena pada saat itu aku sudah muak sekali dengan mulutnya ayu, aku selalu saja dibully haha… begitu lah susahnya jadi cewe polos dan lugu, selalu saja dibuli.
Keesokan harinya, pagi-pagi aku bbm ayu untuk menanyakan tugas puisi, karena hari ini kuliah libur, tapi ayu super sibuk (katanya sih orang penting) jadi kita menunggu arum yang katanya juga balik ke pwt sore. Bersambung….

Sang Pujangga Bergitar



Tak pernah aku sangka akan bertemu dengan lelaki yang sangat hebat, yang bisa meluluhkan hatiku hanya dengan petikan gitarnya dan lesung dipipinya ketika dia tersenyum. Dia mampu membuatku begitu terpesona saat alunan nada yang dimainkannya melayang mengitari kepalaku. Dia membuatku begitu penasaran dengan sikap acuhnya, dan dia…

Namanya Ryan Faezal Zulmi, satu angkatan denganku, Sastra Indonesia di Universitas Jenderal Soedirman. Dia tinggal di daerah Watumas, Purwokerto Utara. Anak terakhir dari dua bersaudara. Dia mempunyai satu kakak laki-laki, yang kini sudah menikah dan mempunyai satu anak. Wah .. ryan udah jadi om-om hehe..
Oke cukup, akan sangat panjang jika menceritakan tentangnya. Karena ini kisahku, akan kuceritakan bagaimana aku bisa mendapatkan hatinya. Mulai dari mana ya?..
Teknikal Meeting untuk malam keakraban Sastra Indonesia, waktu itu semua berkenalan dan saat itulah pertama kalinya aku tahu nama Ryan, tapi masih sering lupa. Ryan masuk ke kelompokku, dan dia mengiringi yel-yel kelompok kami dengan permainan gitarnya. Ryan masih terlihat sangat biasa dimataku, belum ada yang menarik. Dan aku masih ingat ketika dia menyombongkan diri saat melihatku memegang gitar, katanya “emang bisa main gitar? Coba kunci C?” Karena aku tidak tahu tentang gitar, aku menjawab dengan asal “seperti ini” (dengan jari menahan semua senar gitar). Cerita makrab pun masih biasa saja, hanya sebatas pengakraban antara angkatan lama dan angkatan baru.
Aku mulai tertarik dengan Ryan saat dia mengiringi musikalisasi puisi di Malam Untuk Sastra Indonesia, dia memainkan musik sedangkan Afi yang membacakan puisi. Tapi, entah mengapa, malam itu terasa ada yang berbeda, dalam remangnya malam ada sepancar cahaya yang membias dibalik tubuh lelaki yang memainkan gitar. Oh my god! Ada yang berbeda dengan Ryan malam itu, dia tampak jauh lebih terang, entah apa, tapi jari-jarinya seolah menari saat memetik senar gitar, dan semuanya berubah. Sejak saat itu aku nyatakan bahwa “cowo yang main gitar itu keren!”. Haha …
Kadang ga semua harus dimulai dari cowok kan? Kalau suka, ya dikejar dong. Kalau diem aja, bisa-bisa di ambil orang, tapi bukan itu yang terpenting, yang penting adalah orang yang kita suka itu tahu perasaan kita. Nah pembaca yang penasaran, akan kuceritakan strategiku menunjukkan perasaanku pada Ryan.
Strategi pertama, basa-basi pengin nyoba main gitar, minta di ajarin gitu. Dan Alhamdulillah, dia mau. Strategi kedua, minta nomer hape. Strategi ketiga, belajar gitar yuhuuuuu…. Ya biasalah, namanya juga lagi modus, belajar gitarnya sambil ngobrol sana sini. Strategi kelima, kepoin rumahnya, oke ini bagian yang seru loh. Waktu itu, dia gamau nunjukin rumahnya tapi dengan alesan kaki sakit, akhirnya aku diboncengin dan whuuusss meluncur kerumahnya. Ya… walaupun ga mampir, setidaknya tau lah ya rumahnya dimana.
Strategi terakhir, mengungkapkan perasaan lewat orang lain. Jadi, waktu itu si dani (temen aku) yang bilang ke Ryan kalau aku suka sama dia, pura-puranya si aku gatau apa-apa (padahal aku tahu kalau dani bilang ke ryan, dan aku seneng). Sejak saat itu aku jadi sering sms.an sama Ryan, jalan bareng dan akhirnya pacaran.
Begitulah.. dan kisah ini belum berakhir…                            

Selasa, 14 April 2015

Hay.. this is me after 3 years from the last post.

Wake me up!

Setelah lama saya membuat blog ini, namun belum ada satu pun postingan yang saya buat. Entah apa yang selama ini saya lakukan dalam hidup, entahlah. Mulai detik ini saya akan bercerita apapun dalam blog ini agar bisa menjadi sebuah memori yang bisa saya bagikan pada dunia.
Salam kenal Intan Yuli Setianingsih