Aku selalu menunggu kabar darinya, aku
selalu menunggu setiap kali dia sibuk dengan urusannya. Aku sudah menunggu
cukup lama, hanya berharap dia mau mendengar setiap keluh kesahku, tapi
kenyataannya dia tidak pernah mau mendengar jeritan hatiku. Dia hanya ingin
tertawa saat aku bersamanya, dia tak pernah ingin tau masalahku.
Aku ingin sekali berhenti menunggu, aku
ingin sekali memiliki diriku seutuhnya tanpa memikirkan dirinya terus, aku
ingin bebas, tapi aku tak bisa. Kenapa? Kenapa harus aku yang disalahkan atas
keadaan ini? Sikapku yang akhirnya dipermasalahkan olehnya, emosiku yang
menjadi bebannya hingga dia tak mau lagi peduli.
Aku telah sakit sekian lama, aku telah lama
tak merasakan kenyamanan itu, aku telah lama ingin pergi ingin melepasnya.
Namun, setiap kali aku ingin menyerah dan pergi, dia menahanku. Merubah
sikapnya hingga 180 derajat, dan membuatku lupa akan semua lukaku, dan
sayangnya, itu hanya semetara. Dia tidak benar-benar berubah, dan lagi-lagi aku
merasakan luka itu. Untuk kesekian kalinya, aku terluka dan hanya mampu
menangis sendirian.
Aku tak mampu berbicara, tak mampu
menyalahkan, tak mampu mengendalikan setiap tetes airmata yang mengalir, dan
kesalahan terbesarku adalah aku tak sanggup menahan emosiku. Apa yang harus aku
lakukan sekarang? Apakah aku harus pergi? Atau bertahan untuk menunggu lagi.
Tapi sampai kapan? Sampai kapan keadaan ini akan berubah? Atau aku yang harus
berubah, lalu aku harus berubah seperti apa? Seperti dia? Yang selalu
meninggalkanku? Seperti dia yang tidak pernah merasa salah? Seperti dia yang
selalu mengacuhkanku dan lebih mementingkan urusannya? Aku tidak bisa.
Apa aku sudah mencintainya dengan tulus?
Apa aku sudah menyayanginya dengan sepenuh hatiku? Apa aku sudah benar-benar
menjadi kekasih yang baik? Aku tidak tau, aku hanya merasa sakit setiap kali
dia mengacuhkanku, aku hanya merasakan cemburu saat dia bersama orang lain, aku
hanya merasakan kesepian saat menunggu kabar darinya, dan yang bisa kulakukan
hanya memarahinya, seolah-olah aku ingin dia memperjuangkanku, membayar atas
penantianku dengan penyesalanya dengan rasa bersalahnya. Apakah aku sudah
bertingkah egois?