Rabu, 15 April 2015

Hi Ma! karya W.S Rendra

Memaknai makna dalam puisi bukan hanya sekedar makna, tapi bagaimana kita bisa menyatukan pikiran untuk menangkap satu makna yang sama.
Ini adalah proses yang panjang untuk kami bertiga mengerjakan tugas kelompok Mata Kuliah Pengkajian Puisi. Tugas ini adalah tugas menganalisis puisi menurut Roman Ingardien, yaitu untuk menganalisis lapis demi lapis dalam puisi sehingga makna sebenarnya dari sebuah puisi yang ingin disampaikan pada pengarang dapat diterima oleh pembaca.
Hari selasa aku bangun terlambat sekali sekitar jam 9 lebih, karena malamnya aku bergadang untuk menyelesaikan proposal pengajuan dana. Aku mendapat sms dari ayu untuk segera ke kosannya untuk mengerjakan tugas pengkajian puisi. Saat aku sampai di kosannya, arum sedang bersiap untuk sshalat dzuhur, karena aku sedang berhalangan jadi aku tidak shalat. Aku langsung saja tiduran dikasur  sambil menunggu ayu dan melihat arum shalat. Tidak berapa lama, ayu pun datang dengan sop buah di tangannya. Harga sop buah itu 11rb rupiah, wah wah wah mahal sekali ya, tapi sepadan kok dengan rasanya. Kami lalu memulai diskusi, untuk lapis pertama, dikerjakan oleh ayu dan arum, aku hanya menulis ulang puisi tersebut pada selembar kertas, tak lama aku mendapat pesan untuk menjemput ryan, setelah aku menyelesaikan tulisanku aku pun langsung meluncur ke rumah ryan.
Sebelum pergi, arum minta dibelikan tisu basah di BK, setelah menerima uang dari arum, dan meminjam tas kecil milik ayu, aku pun meluncur. Sesampainya kembali aku dikosan ayu, aku mulai mengerjakan lapis kedua yaitu lapis arti, sekarang ini giliran aku untuk mengetik. Awalnya kita membagi tugas, arum mengartikan bait pertama dan kedua, aku bait ketiga dan keempat sedangkan ayu mengartikan bait kelima. Tak lama, kami merasa sangat sulit mengerjakan jika tidak langsung ditulis, akhirnya arum yang membacakan arti dan aku yang mengetik, ayu sedang buang air besar. Tak lama, ayu kembali dengan keluhannya ingin jajan, dia merajuk ingin beli makanan ringan yang rasa keju, karena dari kita bertiga ga ada yang mau gerak, akhirnya ayu lah yang bergerak untuk pergi membeli jajanan, aku dan arum masih sibuk mengartikan puisi.
Ayu kembali dengan tiga bungkus chiki berukuran besar, waauu.. kami pun saling mendiskusikan arti puisi dan tentu saja, sambil ngemil. Lalu tidak lama, ayu bilang “Pake nasi, enak ya” aku pun langsung mengambil nasi yang memang pada saat itu posisiku lebih dekat dengan magic com. Makan nasi dengan chiki terasa sangat nikmat sekali pada saat itu, mungkin karena kita memang sedang lapar.
Hari pun semakin sore dan kita baru mengerjakan sampai lapis ketiga, itupun baru pada bagian objeknya saja. Arum ada acara yang harus dihadiri, jadi pada pukul setengah empat sore, kita sudahin dulu kerja kelompoknya, dan akan dilanjut keesokan harinya.
Syukurlah, karena pada saat itu aku sudah muak sekali dengan mulutnya ayu, aku selalu saja dibully haha… begitu lah susahnya jadi cewe polos dan lugu, selalu saja dibuli.
Keesokan harinya, pagi-pagi aku bbm ayu untuk menanyakan tugas puisi, karena hari ini kuliah libur, tapi ayu super sibuk (katanya sih orang penting) jadi kita menunggu arum yang katanya juga balik ke pwt sore. Bersambung….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar