Selasa, 11 April 2017

Cemburu

Selalu menjadi saat paling menyebalkan ketika perasaan itu muncul, aku tidak bisa menahan perasaanku begitu saja, terlebih aku bisa menjadi orang lain ketika perasaan itu muncul. Aku benci dengan diriku yang selalu lemah menghadapi perasaan itu. Terlebih, karena perasaan itu juga yang menghancurkan cintaku yang dulu.
Ya, perasaan itu adalah perasaan cemburu. Ketika aku mulai menyayangi seseorang dengan teramat sangat maka perasaan itu akan mudahnya datang. Aku benar-benar berhati-hati kali ini, aku takut sekali perasaan itu sampai menguasaiku seperti dulu. Tapi aku juga tidak bisa terus menahan perasaan itu karena rasanya sakit sekali, sungguh sakit sekali.
Aku bukan tipe wanita cuek dan berhati dingin, walaupun sebenarnya aku ingin sekali seperti itu. Perasaan ini kadang muncul ketika banyak sekali orang lain mendapat perhatiannya. Perasaan ini juga muncul ketika aku sedang jauh darinya.

Ah, andai saja perasaan ini bisa kubunuh, tapi aku tau jika kubunuh perasaan ini maka rasa yang lain juga akan mati. Aku sudah pernah merasakan sakit yang lebih sakit dari ini tapi percayalah ketika rasa sakit yang terus menggerogoti maka sakitnya akan bertambah parah. Sial, lagi-lagi yang kutulis hanya soal perasaan.

Rabu, 20 Juli 2016

Aku VS Kamu



Kau tahu apa yang selalu membuatku merasa tidak pernah puas bersamamu? Aku akan memberitahumu, aku merasa tidak puas meskipun kita bersama karena kesukaan kita berbeda.
Aku adalah orang yang sangat menyukai makanan, seberapa mahalnya pun makanan itu aku akan sangat suka dan aku tidak menyesal jika aku harus kehabisan uang karenanya. Dan kamu adalah orang yang sangat menyukai rokok, tidak seharipun kamu bisa bertahan tanpa rokok. Dan meskipun kamu sedang berada di tempat asing dan rokok itu menjadi satu-satunya barang termahal, kamu tetap akan membelinya. Dari sini kita masih memiliki kesamaan dalam mendapatkan apa yang kita sukai, namun aku masih bisa menahan diriku sedangkan kamu tidak.
Aku akan mengalah demi orang yang aku sayang untuk tidak menghabiskan uangku membeli makanan yang aku sukai. Tapi kamu tidak, bahkan untuk orang yang kamu sayang, kamu tidak pernah membelikan es krim yang dia minta walaupun itu es krim “murahan” sekalipun.
Aku bukan seorang wanita yang matre atau silau akan kekayaan, aku hanya ingin melihat seberapa besar kamu mencintai dengan mengorbankan apa yang menjadi keinginanmu demi membuat orang yang kamu sayangi bahagia.
Kamu akan tahu bahwa cinta bukan hanya saling memiliki tapi juga memberi. Memberi tak selalu harus yang mahal tetapi sesuatu yang kamu berikan tanpa diminta dan sesuatu yang jika kamu berikan akan selalu membuat kebahagiaan.

Minggu, 17 Juli 2016

Nasib Kue Lebaran



Pagi yang indah akan selalu diawali dengan senyuman, meski kadang mimpi buruk membuat kita sulit untuk tersenyum setidaknya bersyukurlah karena kamu masih diberi umur untuk memulai hari ini.
Waw.. hampir saja aku lupa, maaf yak karena aku sudah lama ga mengisi blog ini. Banyak hal yang memang harus diselesaikan tapi bukan itu sih alesannya, Cuma kekurangan semangat buat nulis saja. Mood dan stress juga turut berpengaruh loh, ah aku ga mau membahas itu sekarang.
Hari ini aku akan menulis tentang nasib para kue lebaran setelah lebaran usai. Ya.. kalian tau kan tradisi saat lebaran adalah berkunjung ke rumah saudara dan teman terdekat untuk bersilahturahmi dan saling maaf memaafkan. Biasanya di setiap rumah disetiap ruang tamu mereka akan tersaji kue lebaran dengan berbagai macam rasa, bentuk dan pilihan yang pasti bikin para tamu bingung.
Kue lebaran sebenarnya hanya kue biasa namun khusus di hari Lebaran, kue itu menjadi hits dan tersaji di setiap rumah. Kue lebaran umumnya adalah kastengel, nastar, kue putri salju (padahal bentuknya bukan putri, kadang bulan sabit, bintang, hati, bulat), kue kalengan, kue buatan sendiri yang rasanya ngalor ngidul, hahaha maaf.
Karena banyaknya kue yang tersaji di meja tamu, tidak semua kue itu dicicipi atau malah tidak tersentuh sama sekali oleh tamu yang berkunjung karena mereka asik bercengkrama melepas rindu kepada kerabat dan saudara. Lantas bagaimana nasib para kue tersebut. Mubazir…
Kebayakan kue tersebut hanya menjadi pajangan, semakin banyak jenis kue yang disajikan di meja tamu makan semakin indah pula meja tamu untuk dipandang. Setelah lebaran usai, kue tersebut memang akan dimakan oleh pemilik sebagai cemilan sehari-hari. Seperti yang sedang penulis lakukan, menulis sambil nyemil kue lebaran, lihat kue-kuenya masih banyak banget padahal sudah dua minggu lewat dari hari Lebaran.  Memang sih, sebagian besar orang pasti ini menyenangkan para tamu yang berkunjung dengan berbagai macam pilihan kue-kue, tidak memikirkan dampak negatifnya. Kue-kue yang tidak termakan akan dibiarkan begitu saja, syukur-syukur kalau habis dimakan sendiri lantas bagaimana jika kue tersebut tidak bisa bertahan lama akan dibuang percuma kan.


Selasa, 07 Juli 2015

DIA!



Tentang perasaanku yang tak merasa cukup bahagia, aku merasa kosong merasa kurang merasa ada sesuatu yang hilang. Apa dan kenapa aku pun masih mencari jawabannya. Beberapa bulan ini rasanya hanya ada diriku dan kesendirian, tapi kenapa? Padahal aku sedang berada ditengah orang-orang yang aku kenal.
Dan satu orang yang membuatku merasa kecewa berkali-kali, dia selalu berhasil membuatku semakin merasa kesepian, semakin merasa sendiri dan rasanya kesedihan mulai menelan bahagiaku yang dulu.

Senin, 22 Juni 2015

Rindu Sangat



Aku ditinggal sendiri oleh mereka yang mengaku keluargaku. Mereka bahkan tidak mencariku, tidak bertanya tentang kabarku. Apakah mereka lupa, atau mereka terlalu sibuk dengan urusannya. Entahlah, mungkin jika mereka memikirkanku walau hanya sejenak, mereka akan langsung menampisnya.
Aku rindu merasakan hangatnya berada diantara mereka, aku rindu melewati semua bersama-sama. Namun, aku tidak tau apakah mereka juga rindu. Aku memikirkan mereka setiap saat, hingga aku meneteskan air mata karena aku tak tahan lagi dalam kesendirian ini. Aku ingin sekali melalui semuanya bersama kalian, aku ingin sekali tak ada air mata karena lelah menunggu.

Meledak (Lagi)



Hari ini aku kembali membuat masalah, aku tak habis pikir dengan jalan pikiranku sendiri. Rasanya aku seperti orang bodoh yang selalu mempermasalahkan hal yang sama. Aku lagi dan lagi mempermasalahkan kesibukannya, sikap acuhnya yang selalu mengabaikanku. Aku semakin menolak kenyataan, semakin berusaha merubah keadaan. Aku tidak membuat semua menjadi lebih baik, malah semakin memburuk. Keadaan pun akhirnya tetap seperti ini.
Aku mencoba lagi, aku mencoba memaafkanmu dan kesibukanmu, aku sekali lagi mengalah. Karena aku masih percaya bahwa nanti kamu akan sadar, aku membutuhkan mu lebih dari sekedar status. Semoga keputusanku ini yang terakhir, aku tidak lagi mengeluh dan mempermasalahkan kesibukanmu. Semoga akhirnya aku juga bisa berubah.

Menunggu tanpa kepastian. Apakah aku tulus?



Aku selalu menunggu kabar darinya, aku selalu menunggu setiap kali dia sibuk dengan urusannya. Aku sudah menunggu cukup lama, hanya berharap dia mau mendengar setiap keluh kesahku, tapi kenyataannya dia tidak pernah mau mendengar jeritan hatiku. Dia hanya ingin tertawa saat aku bersamanya, dia tak pernah ingin tau masalahku.
Aku ingin sekali berhenti menunggu, aku ingin sekali memiliki diriku seutuhnya tanpa memikirkan dirinya terus, aku ingin bebas, tapi aku tak bisa. Kenapa? Kenapa harus aku yang disalahkan atas keadaan ini? Sikapku yang akhirnya dipermasalahkan olehnya, emosiku yang menjadi bebannya hingga dia tak mau lagi peduli.
Aku telah sakit sekian lama, aku telah lama tak merasakan kenyamanan itu, aku telah lama ingin pergi ingin melepasnya. Namun, setiap kali aku ingin menyerah dan pergi, dia menahanku. Merubah sikapnya hingga 180 derajat, dan membuatku lupa akan semua lukaku, dan sayangnya, itu hanya semetara. Dia tidak benar-benar berubah, dan lagi-lagi aku merasakan luka itu. Untuk kesekian kalinya, aku terluka dan hanya mampu menangis sendirian.
Aku tak mampu berbicara, tak mampu menyalahkan, tak mampu mengendalikan setiap tetes airmata yang mengalir, dan kesalahan terbesarku adalah aku tak sanggup menahan emosiku. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apakah aku harus pergi? Atau bertahan untuk menunggu lagi. Tapi sampai kapan? Sampai kapan keadaan ini akan berubah? Atau aku yang harus berubah, lalu aku harus berubah seperti apa? Seperti dia? Yang selalu meninggalkanku? Seperti dia yang tidak pernah merasa salah? Seperti dia yang selalu mengacuhkanku dan lebih mementingkan urusannya? Aku tidak bisa.
Apa aku sudah mencintainya dengan tulus? Apa aku sudah menyayanginya dengan sepenuh hatiku? Apa aku sudah benar-benar menjadi kekasih yang baik? Aku tidak tau, aku hanya merasa sakit setiap kali dia mengacuhkanku, aku hanya merasakan cemburu saat dia bersama orang lain, aku hanya merasakan kesepian saat menunggu kabar darinya, dan yang bisa kulakukan hanya memarahinya, seolah-olah aku ingin dia memperjuangkanku, membayar atas penantianku dengan penyesalanya dengan rasa bersalahnya. Apakah aku sudah bertingkah egois?